Catatan Kaki Jodhi Yudono
Pada
minggu kedua bulan Februari ini, kita beroleh pelajaran berharga dari
percakapan Najwa Shihab dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melalui
acara
Mata Najwa yang ditayangkan melalui
Metro TV pada 12 Februari 2014.
Lantas,
Metro TV
juga memutar ulang tayangan tersebut sepekan sesudahnya. Maka, kita pun
menjadi saksi atas kebaikan hati perempuan bernama Tri Rismaharini ini.
Cerita kebaikan beliau bermunculan di mana-mana, terutama melalui media
sosial. Tak kurang, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Sarlito Wirawan menulis kesalehan perempuan sederhana yang hebat itu.
Saya juga mendapatkan sebuah artikel di Kompasiana yang menulis begini:
Saat
akan dipilih sebuah partai untuk mejadi calon wali kota Surabaya, dia
menelepon seorang kiai pimpinan pesantren untuk meminta doa agar tidak
terpilih menjadi wali kota. Alasannya, sebagai perempuan dia tidak
sekuat Umar bin Khattab yang mampu memanggul beras untuk orang-orang
miskin.
Hal ini tidak lepas dari cerita yang sampai kini terus
diingatnya saat di sekolah madrasah dulu, dan entah mengapa cerita itu
terus diingatnya saat menjadi wali kota, yakni cerita seorang ibu yang
memasak batu untuk menghibur anaknya. Padahal sang ibu saat itu tidak
punya sesuatu untuk dimasak. Bagaimanapun dan selama apa pun batu
dimasak, maka juga tidak akan matang. Saat itu Khalifah Umar bin Khattab
tahu karena "blusukan" ke kampung-kampung.
Ya, Bu Risma memang
ingin meniru Umar bin Khatab sebagai seorang pemimpin. Yakni pemimpin
yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang miskin dan papa. Bu
Risma juga ingin meniru sahabat Umar yang ingin menjadikan Surabaya
seperti Madinah dalam hal toleransi beragama maupun antar-etnis.
Ketika
Risma benar-benar terpilih menjadi wali kota, beliau pun melaksanakan
keinginannya membantu satu per satu orang miskin di Surabaya agar kelak
di akhirat dia tidak mendapat murka dari Allah SWT.
Selain datang
ke berbagai kampung di Surabaya, dia juga mengumpulkan seluruh lurah
dan camat agar mendata orang-orang yang membutuhkan bantuan di daerah
mereka. Di mobilnya juga selalu ada beras yang dibawa.
Tak cuma
di dalam negeri empati Risma terhadap rakyatnya teruji, saat di luar
negeri pun ingatan Risma hanya kepada rakyatnya semata, tidak pada
oleh-oleh barang mewah seperti yang dilakukan oleh bupati atau wali kota
lain saat mendapat undangan ke negeri Swiss beberapa waktu lalu.
Saat
di Swiss, si penulis blog di Kompasiana yang bernama Arif Khunaifi itu
menulis, banyak sekali bupati dan wali kota sedunia yang belanja jam
tangan. Irfan, kepala satpol PP yang mendampingi Ibu Risma, mengatakan
bahwa harga jam tangan Rp 125 juta, dan sudah banyak bupati dan wali
kota yang membelinya.
Kemudian Irfan datang lagi dan mengatakan,
ada bupati yang wilayahnya masih bertetangga dengan Surabaya yang
membeli jam tangan seharga Rp 275 juta. Kemudian Bu Risma mengatakan
kepada Irfan agar tidak bercerita lagi mengenai mereka. Namun, Bu Risma
sempat berpikir, dari mana mereka dapat uang sebanyak itu? Dia juga
berpikir alangkah banyak beras yang bisa dibeli untuk orang miskin.
***
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini (kiri), usai menerima
Piala Adipura Kencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana
Negara, Jakarta, Senin (10/3/2013). Perayaan Hari Lingkungan Hidup
Sedunia 2013 diperingati dengan pemberian penghargaan Adipura bagi
kota/provinsi dan Kalpataru bagi individu yang peduli pada lingkungan
hidup.
Ada hal yang selama ini kita cari bernama keteladanan,
namun selalu saja luput kita dapatkan, lantaran sebagian yang kita kira
bernama teladan ternyata tak lebih hanya kepura-puraan atau pencitraan.
Sampai
akhirnya kita pun mendapat kesimpulan bahwa apa yang kita saksikan
tentang pemimpin di televisi dan media lainnya tak lebih dari
"tipu-tipu" dan bualan semata. Maka gambaran tersebut pun kian
memperlihatkan bentuknya yang vulgar saat pemilu menjelang. Mereka yang
kita tahu tak pernah terlibat dalam urusan orang miskin, kesehatan,
pendidikan, dan masa depan bangsa ini, hari-hari belakangan
"berpura-pura" jadi jagoan yang seolah peduli dengan derita
wong cilik.
Untunglah, kepekaan kita sudah terlatih, tahu bagaimana memilah dan memilih; siapa yang tulus dan siapa yang berakal bulus.
Pengalaman
juga yang akhirnya mengajarkan bahwa ada yang tak bisa dibuat-buat, dan
itu bernama ketulusan. Sebuah kata yang mampu memancarkan resonansi dan
menggerakkan siapa pun yang masih memiliki nurani dan rindu akan
kebenaran.
Ketulusan dan teladan, itulah yang bisa kita tangkap
dari Tri Rismaharini. Getaran yang dipancarkan dari ketulusan hati dan
keteladanan Ibu Risma selama ini, menggerakkan sebagian besar pemirsa.
Tanpa dikomando, para pemirsa pun turut menangis saat Ibu Risma
menangis. Ikut tersenyum saat beliau tersenyum. Maka tak heran, jika
pada hari itu Ibu Risma menjadi
trending topic di jejaring
sosial Twitter. Para pengguna media sosial itu pun berkicau menguatkan
hati Risma dan memintanya tak mundur dari jabatan wali kota Surabaya
lantaran rakyat di ibu kota Provinsi Jawa Timur itu masih membutuhkan
kepemimpinan Risma. Bahkan Najwa Shihab sebagai pewawancara tak kuasa
untuk "melibatkan" diri dengan segenap perasaan dan meminta Risma
mengurungkan niatnya untuk mundur dari jabatan wali kota. Di Twitter
ramai beredar kicauan dengan tagar #Saverisma.
"Ibu janji ya,
enggak akan mundur sebagai wali kota Surabaya," pinta Najwa, sebuah
permintaan yang tidak lazim dari seorang pewawancara (jurnalis) karena
telah bertindak subyektif. Namun maklumlah, Najwa cuma manusia biasa,
dan bisa jadi memang benar, Najwa menangkap keinginan yang tulus dari
pemirsanya, terutama warga Jawa Timur yang menghendaki Risma tak mundur.
Risma
menggeleng, dan dia tidak mau berjanji. Sebab katanya, dia takut
berdosa jika melanggar janjinya. ”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya
Tuhan dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya
tidak mau tidak masuk surga!” ujar Risma.
Lalu Najwa pun mengingatkan Risma betapa rakyat Surabaya masih membutuhkan dirinya.
Saat
disinggung mengenai rakyat itulah, air mata Risma meleleh. Kata-katanya
lirih. Jika ada yang masih membuatnya bertahan pada jabatannya sebagai
wali kota, ialah rakyat yang masih memerlukan kasih sayangnya sebagai
seorang ibu, seorang wali kota. Ia mengaku, tugas yang diembannya sangat
berat.
Maka Najwa pun bertanya, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan
diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon
wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga
Surabaya?”
Di dalam wawancara itu, selain membahas isu rencana
pengunduran dirinya sebagai Wali Kota Surabaya, Risma juga menuturkan
kisah anak-anak yang menjadi pekerja seks komersial di kawasan Dolly,
Surabaya. Ia terisak. Bahkan tak mampu menjawab pertanyaan Najwa
selanjutnya.
Menjelang akhir tayangan, Najwa kembali menanyakan
niatnya untuk mundur. Berulang kali air mata Risma menetes, ia menangis.
Terutama, ketika ditanya, apakah ia masih berkeinginan kuat untuk
mundur, sementara banyak masyarakat kecil yang berharap kepadanya?
"Itu
yang saya pikirkan. Saya cari mereka satu-satu. Anak yatim kami berikan
makan tiga kali sehari, lansia, anak miskin bisa sekolah, anak miskin
pandai kami berikan beasiswa. Bahkan, ada yang dikirim ke Malaysia untuk
S-1 sampai S-3. Saya cari satu-satu. Saya minta ke lurah untuk mencari,
saya nitip ke warga. Itu yang saya pikirkan. Itu saja yang jadi
pertimbangan saya. Kalau yang lain, saya bisa
ngatasin," papar Risma.
Risma
mengaku, ada sejumlah risiko terkait jabatannya. Ancaman pernah
diterima anaknya. Namun, ia mengaku ikhlas jika sesuatu terjadi padanya
karena apa yang dilakukannya selama menjabat sebagai wali kota Surabaya.
"Saya
sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. semua hanya titipan, tinggal
Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Ilahi. Saya tidak tahu nanti sore,
besok. Saya sudah sampaikan, itu risiko (ke keluarga). Waktu saya
nyalon kan keluarga saya tidak ikhlas. Tapi, saya enggak
ngira kalau jadi. Setelah jadi, saya jalani saja takdir Tuhan," katanya.
Ketika
pertanyaan kembali mengarah pada keinginannya mundur, air mata Risma
kembali menetes. Ini yang disampaikannya kepada para warga Surabaya.
"Saya
selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang
saya miliki sudah saya berikan. Saya tidak punya apa-apa lagi, semua
sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun
tidak terlalu saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga
Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi
saya mohon maaf," katanya dengan berurai air mata.
***
Wikipedia mencatat, perempuan bernama Ir Tri Rismaharini, MT, atau
terkadang ditulis Tri Risma Harini lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20
Oktober 1961 dan menjabat Wali Kota Surabaya sejak 28 September 2010.
Sebelum
terpilih menjadi wali kota, Risma pernah menjabat Kepala Dinas
Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota
Surabaya hingga tahun 2010.
Sederet taman kota yang dibangun di era Tri Risma adalah pemugaran taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep
all-in-one entertainment park,
taman di Bundaran Dolog, taman Undaan, serta taman di Bawean, dan di
beberapa tempat lainnya, yang dulunya mati dan kini tiap malam dipenuhi
oleh warga Surabaya. Selain itu Risma juga berjasa membangun jalur
pedestrian dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang
kemudian dilanjutkan hingga Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima
Sudirman.
Di bawah kepemimpinannya pula Kota Surabaya meraih tiga
kali Piala Adipura yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 kategori kota
metropolitan. Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya
menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012
versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan rakyat dalam
berpartisipasi mengelola lingkungan. Pada Oktober 2013, Kota Surabaya di
bawah kepemimpinannya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik,
yaitu Future Government Awards 2013 di 2 bidang sekaligus yaitu
data center dan inklusi digital, menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.
Belum
setahun menjabat, pada tanggal 31 Januari 2011 Ketua DPRD Surabaya
Whisnu Wardhana menurunkan Risma dengan hak angketnya. Alasannya adalah
karena adanya Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 56 tahun 2010
tentang Perhitungan nilai sewa reklame dan Peraturan wali kota Surabaya
Nomor 57 tentang perhitungan nilai sewa reklame terbatas di kawasan
khusus kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25 persen.
Risma dianggap telah melanggar undang-undang, yaitu Peraturan Menteri
Dalam Negeri (Permendagri) nomor 16/2006 tentang prosedur penyusunan
hukum daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, sebab Wali Kota tidak
melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait pembahasan dan
penyusunan Perwali.
Keputusan ini didukung oleh 6 dari 7 fraksi
politik yang ada di dewan, termasuk PDI-P yang mengusungnya. Hanya
fraksi PKS yang menolak dengan alasan tindakan pemberhentian dirasa
"terlalu jauh" dan belum cukup bukti dan data.
***
Jalan
Tuhan, itulah yang diambil oleh Risma. Karenanya, dia tidak pernah
gentar dengan siapa pun dan apa pun sejauh dirinya melaksanakan tindakan
untuk kepentingan rakyat Surabaya. Berbagai teror dan tekanan yang
datang tak pernah menciutkan nyalinya untuk
melangkah.
Bahkan kepada keluarganya, Risma telah berpamit jika sewaktu-waktu maut
menjemput saat dirinya bertugas, keluarganya harus mengikhlaskannya dan
tak boleh menuntut siapa pun.
Semua yang dilakukannya
bertumpu pada keyakinannya sebagai seorang Muslimah yang mengerti benar
ajaran Nabi Muhammad, bahwa dirinya juga harus mengasihi mereka yang tak
seiman. Ya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW saat
memimpin Madinah yang menjunjung tinggi keberagaman dan membentuk
masyarakat madani. Seperti yang dicontohkan oleh sahabat Umar bin Khatab
yang sedemikian takutnya kepada Tuhan jika dirinya tak mampu mengangkat
kehidupan rakyatnya yang miskin dan papa.
Pada titik tertentu,
sebagai manusia biasa, saya pun seperti Najwa dan juga masyarakat Kota
Surabaya yang tak rela jika Risma mundur dari jabatannya sebagai wali
kota. Sebab kami menyayangi Ibu Risma, kasih sayang yang terbit dari
kebaikan Ibu yang telah mengasihi rakyat Surabaya tanpa batas. Jangan
mundur Bu, jutaan orang yang masih menjaga nuraninya tetap bersama Bu
Risma. Termasuk saya.
@JodhiY